Sabtu, 06 November 2010

Penyebab fasilitasi sosial


Penyebab timbulnya fasilitas sosial dipengaruhi oleh 3 faktor yang diantaranya adalah

1. Drive Theory Of Social Facilitation
Seseorang masuk kedalam sebuah kelompok karena adanya dorongan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya,: Suatu teori yang mengemukakan bahwa kehadiran orang lain meningkatkan kecenderungan seseorang untuk menunjukkan suatu respon yang dominan.
 
2. Evaluation Apprehesion
kekhawatiran akan evalusi atau penilaian dari orang lain.    

3. Distraction (perhatian yang terpecah)
Distraksi adalah suatu perhatian yang terpecah ke beberapa pokok perhatian lain. Perhatian yang terpecah atau distraksi membuat peningkatan tersendiri pada fasilitas social.

Tahap performing : mengenai fasilitas sosial


I. Percobaan Norman Triplett (1897) tentang fasilitasi sosial yaitu situasi dimana kehadiran orang lain akan meningkatkan kinerja seseorang.
a. Coaction Paradigm
beberapa orang melakukan tugas dan ditempat yang sama, tetapi tidak saling
berinteraksi, misalnya: ujian dikelas
b. Audience Paradigm (passive spectators)
kehadiran orang lain justru menghambat kinerja, misalnya: menghapal pelajaran ditengah orang banyak.

II. Penelitian Robert Zajonc:
*Respon dominan
fasilitasi sosial yang ada meningkatkan kinerja seseorang, maka respon dominan itu sesuai

*Respon nondominan
fasilitasi sosial yang ada menurunkan kinerja seseorang, maka respon dominan itu tidak sesuai




PERFORMING

Tahap pelaksanaan/pengerjaan(performing)

Setelah terbentuk aturan, tata tertib dan norma bahkan budaya yang disepakati bersama maka kelompok tersebut akan masuk ke tahap performing di mana seluruh anggota merasa nyaman untuk bekerja dan mencapai kinerja optimal. Tahap ini ditandai oleh struktur yang telah sepenuhnya berfungsi dan diterima dengan baik. Energi kelompok telah bergeser dari mencoba mengerti dan memahami satu sama lain kepelaksanaan tugas di masa mendatang. Kelompok pada tahap ini dapat berfungsi dalam menyelesaikan pekerjaan dengan lancar dan efektif tanpa ada konflik yang tidak perlu dan supervisi eksternal. Anggota kelompok saling tergantung satu sama lainnya dan mereka saling respek dalam berkomunikasi. Supervisor dari kelompok ini bersifat partisipatif. Keputusan penting justru banyak diambil oleh kelompok. Tahap ini juga merupakan periode yang belum tentu dapat dicapai oleh semua tim. Performing dicapai jika struktur telah berfungsi dan diterima secara penuh. Anggota tim berorientasi pada tugas tetapi sekaligus berorientasi pada manusia. Anggota tim menjadi semakin cakap dalam bekerja sama dan memiliki interdependensi untuk mencapai tujuan kelompok. Untuk tim permanen, performing adalah tahap terakhir. Untuk tim yang bersifat sementara.  
Tahapan ini juga merupakan titik kulminasi dimana team sudah berhasil membangun system yang memungkinkannya untuk dapat bekerja secara produktif dan efisien. Pada tahap ini keberhasilan team akan terlihat dari prestasi yang ditunjukkan.


TAHAP NORMING : PEMBENTUKAN STRUKTUR KELOMPOK

Norming ditandai dengan terbentuknya hubungan yang dekat antar anggota tim, menunjukkan kohesivitas dan merasakan identitas kelompok yang kuat. Anggota tim saling berbagi perasaan, ide, umpan balik dan menggali tindakan-tindakan yang diperlukan untuk melakukan suatu tugas. Tahap ini terselesaikan jika terdapat struktur peran dan norma yang merupakan konsensus tim.Pada tahap norming, ada beberapa tahapan juga yang terkait dalam proses terjadinya suatu kelompok , dan sekarang saya akan bahas satu persatu dari tahapan-tahapan tersebut yaitu,

1. Peran (role)
Peran (role) merupakan perilaku yang biasanya ditampilkan orang sebagai anggota kelompok yang menyediakan basis harapan berkaitan dengan perilaku orang dalam posisi yang bervariasi dalam kelompok.
Perbedaan peran :
Task roles
tugas
Socioemotional roles
sosioemosi

Dalam  tahap pembentukan peran pun kita mengenal  yang namanya teori 3 dimensi peran yang terdiri dari  :
a. dominance – submission
b. friendly – unfriendly
c. instrumentally controlled – emotionally eupressive


Selain itu pada tahap pembetukan peran dapat kita temui beberapa konflik yang diantaranya adalah  :
interrole : konflik antara 2 atau lebih peran yang dijalani oleh 1 orang
intrarole : konflik antara peran 1 orang dengan peran orang lain

2. Norma (norm)
Pada tahap kedua yaitu adanya pembentukan norma (norm) yang merupakan aturan-aturan yang menggambarkan tindakan tindakan yang seharusnya diambil oleh anggota kelompok. Jadi di dalam sebuah kelompok, terdapat ketetapan mengenai aturan-aturan yang dapat mengatur jalannya sebuah kelompok,dimana ada batasan-batasan yang harus di petuhi oleh seluruh anggota dalam menjalankan aktivitas-aktivitas mereka. Aturan ini pun dibentuk berdasarkan

3. Hubungan antar anggota
Yang terakhir adalah terciptanya hubungan antar anggota,dimana dalam sebuah kelompok harus adanya hubungan diantara setiap anggotanya, dimana dimulai dari
otoritas, hubungan ketertarikan, hubungan komunikasi

Sumber : Handout Psikologi kelompok klara Innata Arishanti, S.Psi

Pembentukan norma kelompok

Perilaku kelompok, sebagaimana semua perilaku sosial, sangat dipengaruhi oleh norma-norma yang berlaku dalam kelompok itu. Sebagaimana dalam dunia sosial pada umumnya, kegiatan dalam kelompok tidak muncul secara acak. Setiap kelompok memiliki suatu pandangan tentang perilaku mana yang dianggap pantas untuk dijalankan para anggotanya, dan norma-norma ini mengarahkan interaksi kelompok.
 
Norma muncul melalui proses interaksi yang perlahan-lahan di antara anggota kelompok. Pada saat seseorang berprilaku tertentu pihak lain menilai kepantasasn atau ketidakpantasan perilaku tersebut, atau menyarankan perilaku alternatif (langsung atau tidak langsung). Norma terbetnuk dari proses akumulatif interaksi kelompok. Jadi, ketika seseorang masuk ke dalam sebuah kelompok, perlahan-lahan akan terbentuk norma, yaitu norma kelompok.

NORMING

Pada tahap proses pembentukan dasar kelompok ada beberapa tahapan yaitu Forming,storming dan  yang ketiga adalah Norminng, tahap ini menjelaskan bahwa di dalam sebiah kelompok individu saling terikat dan solid dengan individu lain, dan kelompok dilihat sebagai suatu totalitas bukan hal yang terpisah. Disini semua tugas, tanggung jawab, dan struktur telah tersusun jelas. Masing-masing anggota kelompok telah menyepakati soal aturan-aturan yang telah mereka rundingkan dan setujui pada tahap stroming. Disini individu tidak lagi dilihat sebagai individu, namun lebih diliahat sebagai alat yang bekerja untuk suatu system. Pada tahap ini norming bisa dikatakan pula sebagai tahapan dimana individu-individu dan sub group yang ada dalam team mulai merasakan keuntungan bekerja bersama dan berjuang untuk menghindari team tersebut dari kehancuran (bubar). karena semangat kerjasama sudah mulai timbul, setiap anggota mulai merasa bebas untuk mengungkapkan perasaan dan pendapatnya kepada seluruh anggota team. Selain itu, semua orang mulai mau menjadi pendengar yang baik. Mekanisme kerja dan aturan-aturan main ditetapkan dan ditaati seluruh anggota.